Jumat, 16 November 2012

IKAN LELE



Klasifikasi dan Jenis Ikan Lele

 

Hay dalam postingan saya kali ini tentang makhluk hidup saya akan membahas tentang ikan Lele . Ikan Lele (Clarias) adalah marga (genus) ikan yang hidup di air tawar. Ikan ini mempunyai ciri-ciri khas dengan tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang serta mimiliki sejenis kumis yang panjang, mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Ikan ini juga di juluki catfish (karena kumisnya yang menyerupai kumis kucing). Ikan ini sebenarnya terdiri atas berbagai jenis (spesies). Sedikitnya terdapat 55 spesies (jenis) ikan lele di seluruh dunia.
Ikan-ikan marga Clarias ini dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan siripanus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya.



Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: tinopterygii. Ordo: Siluriformes. Famili: Clariidae. Genus: Clarias (Scopoli, 1777)

Nama-nama lele di Nusantara
Lele, secara ilmiah terdiri dari banyak spesies. Tidak mengherankan pula apabila lele di Nusantara mempunyai banyak nama daerah. Antara lain: ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Gayo dan Aceh), ikan sibakut (Karo), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia), ikan 'keli' untuk lele yang tidak berpatil sedangkan disebut 'penang' untuk yang memiliki patil (Kalimantan Timur).
Di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), gura magura (Srilangka), dan 鲇形目 (Tiongkok). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Nama ilmiahnya, Clarias, berasal dari bahasa Yunani chlaros, yang berarti ‘lincah’, ‘kuat’, merujuk pada kemampuannya untuk tetap hidup dan bergerak di luar air.
Habitat dan perilaku
Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae).Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.
Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah padamusim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,namun ada beberapa jenis lele yang bisa mencapai panjang 1-1,5 m dan beratnya bisa mencapai lebih dari 2 kg,contohnya lele Wels dari Amerika.

Pembenihan dan perkembang biakan lele
Pembenihan ikan lele merupakan salah satu bagian dari budidaya ikan lele dengan cara mengawinkan indukan untuk mendapatkan anakan yang siap dipasarkan. Sistem pembenihan terdiri dari 3 jenis, yaitu: sistem massal dimana meletakkan satu pejantan dan beberapa betina di dalam kolam, sistem budidaya pasangan dimana dalam satu kolam diletakkan hanya 1 pasang indukan saja, dan yang terakhir adalah sistem pembenihan hyphofisasi (suntik) dimana akan ada 1 indukan yang dikorbankan sebagai donor kelenjar hyphofise. 

Berikut ini adalah cara pembenihan ikan lele dengan menggunakan sistem alami:

I. PEMATANGAN GONAD
Proses ini dilakukan di kolam seluas 50 - 200 m2 dengan tingkat kepadatan antara 2 - 4 kg/m2. Jumlah pakan yang diberikan berupa pelet dengan berat 3% dari berat tubuh ikan setiap harinya.

II. SELEKSI INDUK
Seleksi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kematangan indukan yang akan dipijahkan. Pilih indukan betina dengan ciri: perut yang buncit dan bila dipijit ke arah lubang kelamin akan keluar telur yang berwarna kuning tua. Sedangkan untuk indukan jantan bisa dilihat dari warna tubuh yang gelap serta warna alat kelamin yang kemerahan

III. PEMBEROKAN
Proses ini dilakukan dalam bak/kolam seluas 4 - 6m2 dengan tinggi 1m selama 1-2 hari. Tujuan dari pemberokan adalah untuk membuang dan mengurangi kandungan lemak pada gonad. Periksa kembali kematangan indukan setelah proses pemberokan selesai

IV. PENGURUTAN
Proses ini disebut juga dengan proses pemijahan. Dalam proses pemijahan alami, satukan indukan jantan dan betina ke dalam bak yang telah diberi ijuk. Lakukan pengurutan 8 - 10 jam setelah penyuntikan. 

V. PENDEDERAN
Setelah larva anakan muncul dan ukurannya menjadi semakin besar, maka langkah selanjutnya adalah pendederan. pendederan ini merupakan proses pemisahan anakan berdasarkan ukuran tubuh dan memindahkannya ke dalam bak sendiri. Setelah umurnya 3-4 hari maka anakan tersebut siap untuk diberi makan tambahan.

Menyuntik Induk Lele Dengan Hormon Ovaprim
Urutan pekerjaan pemijahan induk lele secara semi intensif dengan hormon buatan adalah sebagai berikut :
  1. Siapkan alat suntik dan hormon Ovaprim untuk disuntikkan. Gunakan injeksi spuit yang sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan alat injeksi yang baru.
  2. Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis Ovaprim.
    • Induk yang beratnya ± 1 kg, dosis hormon Ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg maka dosis yang diperlukan setengah nya, yakni 0,15 - 0,25 ml (sesuai petunjuk pada wadah hormon tersebut).
    • Sedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk mengencerkannya.

  1. Cara menyuntik
    • Tangkap induk lele dengan menggunakan seser induk. Kemudian seorang membantu memegang induk lele yang hendak disuntik (ikan betina terlebih dahulu) dengan menggunakan kain untuk menutup dan memegang kepala ikan dan memegang pangkal ekornya.
    • Kemudian suntikkan hormon yang sudah disiapkan tadi ke dalam daging lele di bagian punggung, setengah dosis di sebelah kiri dan setengah dosis disebelah kanan dengan kemiringan jarum sunik 40 – 45º. Kedalaman jarum suntik ± 1 cm dan disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh ikan.
    • Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah obat didorong masuk, jarum dicabut lalu bekas suntikkan ditekan/ditutup dangan jari telunjuk beberapa saat agar obat tidak keluar.
· Setelah disuntik, ikan jantan dan betina dimasukkan ke dalam bak pemijahan.
Menyuntik Induk Lele Dengan Hormon Alamiah (Hipofisa)
Hormon ini diambil dari kelenjar hipofisa yang terletak di bagian bawah otak kecil ikan. Setiap ikan (juga makhluk bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak kecil. Kelenjar hipofisa ini hanya sebesar butir kacang hijau, bahkan lebih kecil.
Untuk menyuntik induk ikan lele diperlukan kelenjar hipofisa yang diambil dari ikan donor, sedangkan penerimanya disebut resipien. Ikan donor dapat dipilihkan dari ikan lele dumbo, ikan mas atau ikan lele local. Karena hormon untuk keperluan penyuntikan diambil dari kelenjar hipofisa maka penyuntikan untuk merangsang pemijahan disebut juga hipofisasi.
a. Dosis hipofisa
Untuk menyuntik induk ikan lele dibutuhkan kelenjar hipofisa adalah 3 dosis. Artinya, seekor induk lele yang beratnya 1 kg, akan memerlukan kelenjar hipofisa yang berasal dari ikan donor yang berat badannya 3 x 1 kg. Ikan donor seberat 3 kg itu dapat terdiri atas 3 – 6 ekor yang masing-masing beratnya antara 0,5 – 1 kg.
Sebagai ikan donor sebaiknya dipilihkan ikan yang sudah dewasa. Efektifitas jantan maupun betina sama saja. Jika dipilihkan ikan donor yang belum dewasa atau tidak matang gonad maka kadar hormon di dalam kelenjar hipofisanya sedikit.
b. Pengambilan kelenjar hipofisa dan pembuatan ekstrak
Cara mengambil kelenjar hipofisa dari ikan donor adalah sebagai berikut :
1. Ikan donor dipegang pada bagian kepalanya. Bila licin, gunakan kain lap. Sementara bagian kepala dipegang, bagian badan diletakkan di atas talenan. Kepala ikan donor dipotong di bagian belakang tutup insangnya hingga kepala putus.
2. Setelah terpotong, bagian atas kepala ikan dipotong di atas mata hingga tulang tengkoraknya terbuka dan otak kelihatan.
3. Otak ini disingkapkan dengan menggunakan pinset maka di bawah otak akan terlihat kelenjar hipofisa berwarna putih sebesar butir kacang hijau.
4. Dengan tetap menggunakan pinset, kelenjar hipofisa diangkat kemudian diletakkan di dalam cawan yang bersih untuk dicuci dengan aquadest hingga darah yang menempel hilang. Cara membersihkannya dengan di semprot-semprot aquadest menggunakan sebuah pipet.


5. Setelah butir kelenjar hipofisa itu bersih lalu dimasukkan ke dalam tabung penggerus. Lalu kelenjar hipofisa tersebut digerus hingga hancur.
6. Selanjutnya, kelenjar tersebut diencerkan dengan 1 ml aquadest. Dengan demikian hormon GSH yang terkandung di dalam kelenjar hipofisa itu akan terlarut dalam cairan.

7. Larutan tersebut diendapkan beberapa menit hingga kotoran tampak mengendap di dasar. Cairan bagian atas diambil dengan alat injeksi spuit untuk disuntikkan kepada induk ikan lele.
c. Penyuntikan ekstrak hipofisa
Hormon di dalam spuit injeksi disuntikkan pada punggung induk ikan lele. Proses penyuntikan sama seperti pada penggunaan hormon buatan. Setelah disuntik induk ikan lele dimasukkan ke dalam bak pemijahan.




Alat-alat :
  • ·       Alat suntik
  • ·       Hormon ovaprim
  • ·       Pinset
  • ·       Spuit injeksi
  • ·       Bak(untuktempat pemijahan)
  • ·       Tabung penggerus
  • ·       Cawan
  • ·       Pipet
  • ·       Aquadest


Spesies Ikan Lele

Sedikitnya terdapat 55–60 spesies anggota marga Clarias diseluruh dunia. Dari jumlah itu, di Indonesia kini diketahui belasan spesies lele, beberapa di antaranya baru dikenali dan dideskripsi dalam 10 tahun terakhir. Berikut ini adalah daftar jenis (spesies) Ikan Lele menurut Ferraris (2007), yang terdapat di Indonesia.
  1. Clarias batrachus (Linnaeus, 1758). Disebut juga Lele kampung, Kalang, Ikan Maut, Ikan Pintet. Menyebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
  2. Clarias gariepinus (Burchell, 1822). Disebut sebagai Lele Dumbo (King Catfish). Menyebar luas di Afrika dan Asia Kecil, kini diternakkan di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
  3. Clarias insolitus (Ng, 2003). Endemik di aliran Sungai Barito, Kalimantan.
  4. Clarias intermedius (Teugels, Sudarto & Pouyaud, 2001). Endemik di Kalimantan Tengah, di antara Sampit dengan Sungai Barito.
  5. Clarias kapuasensis (Sudarto, Teugels & Pouyaud, 2003). Endemik di Kalimantan Barat, di sekitar aliran Sungai Melawi dan Kapuas.
  6. Clarias leiacanthus (Bleeker, 1851). Endemik di Kalimantan Barat, di aliran Sungai Kapuas.
  7. Clarias meladerma (Bleeker, 1846). Disebut juga dengan Wiru, Wais, Ikan Duri, atau Lele Hitam. Terdapat di lembah Sungai Mekong, Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Filipina.
  8. Clarias microstomus (Ng, 2001). Endemik di Kalimantan Timur, di sekitar aliran Sungai Mahakam dan Kayan.
  9. Clarias nieuhofii (Valenciennes, 1840). Disebut juga dengan Limbat, Lembat. Terdapat di Sumatra, Kalimantan, India, Filipina, Thailand, dan pesisir Kamboja, serta kemungkinan di sisi Pegunungan Cardamom di arah Sungai Mekong.
  10. Clarias nigricans (Ng, 2003). Endemik di Kalimantan Timur, di sekitar aliran Sungai Mahakam.
  11. Clarias olivaceus (Fowler, 1904). Endemik di Sumatera Barat, di sungai-sungai dataran tinggi.
  12. Clarias planiceps (Ng, 1999). Disebut juga sebagai Lele Kepala-pipih. Endemik Kalimantan. Habitatnya meliputi hulu Sungai Rajang dan Kapuas, Kalimantan Barat, serta Sungai Kayan, Kaltim.
  13. Clarias pseudoleiacanthus (Sudarto, Teugels & Pouyaud, 2003). Endemik Kalimantan.
  14. Clarias pseudonieuhofii (Sudarto, Teugels & Pouyaud, 2004). Endemik Kalimantan Barat, pada sistem Sungai Kapuas bagian hulu.
  15. Clarias teijsmanni (Bleeker, 1857). Dinamakan juga sebagai Lele Kembang. Menyebar di sekitar aliran Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, dan Jawa.





Kesimpulan
Lele hewan yang tersebar luas di dunia, di indonesia pun juga banyak daerah penyebaran lele. Hewan yang mempunyai keunikan pada kumisnya itu sangat gampang di kenal dari pada ikan-ikan lain. Sekian postingan saya kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih semoga bermanfaat


Referensi:
  • id.wikipedia.org/wiki/Lele
  • www.geocities.com/yasmuipsht6/jenis-lele
  • Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar